RSS

Film

Penuh dengan Tanda Tanya “?”

dok. cineplex.com

Perbedaan dalam keragaman dan toleransi merupakan dua hal yang saling terkait, terutama jika menyangkut masalah agama dan suku bangsa. Indonesia sebagai negara berpenduduk mayoritas Muslim dengan berbagai macam etnis dan kebudayaan, memiliki banyak kisah perihal toleransi yang menarik untuk diangkat ke layar lebar. Dengan pemain Rio Dewanto, Enditha, Hengky Solaiman, Revalina S Temat, dan masih banyak lagi para pendukung pemain film ini. Sebagai sineas, Hanung Bramantyo tergerak untuk menghadirkan kisah dengan latar belakang perbedaan ini kepada masyarakat Indonesia.

Film arahan Hanung Bramantyo ini bercerita tentang konflik keluarga dan pertemanan yang terjadi di sebuah area dekat Pasar Baru,. Di sana terdapat masjid, gereja, dan klenteng yang letaknya tidak berjauhan. Para penganutnya memiliki hubungan satu sama lain. Dikisahkan Tan Kat Sun (Henky Solaiman) pemeluk Konghucu dan pemilik restoran masakan Cina yang sudah sakit-sakitan, sangat sadar lingkungan,. Cara masak dan peralatan masak di restorannya dipisah antara yang halal dan haram. Ia bermasalah dengan anaknya, Ping Hen alias Hendra (Rio Dewanto), yang memiliki visi tersendiri dalam bisnis.

Sementara itu Soleh (Reza Rahadian), pemeluk Islam, pengangguran, rajin menjalankan ibadah. Soleh selalu gundah akan keadaan dirinya. Istrinya, Menuk (Revalina S Temat), berjilbab, bekerja di restoran Tan Kat Sun. Menuk praktis menjadi tiang keluarga, dan tampil sebagai istri teladan. Di sisi lain, Rika (Endhita), janda berputra tunggal, meneruskan usaha keluarga: toko buku. Atas pilihannya sendiri, ia belajar agama Katolik dan ingin dibaptis, sambil mendorong putranya untuk memperdalam agama Islam di masjid setempat. Ia juga bersahabat dengan Surya (Agus Kuncoro), yang bercita-cita menjadi aktor hebat tapi hanya mendapat peran-peran kecil. Saking tidak punya uang, ia menginap di measjid.

Kisah nyata berdurasi kurang lebih 2 jam ini didapatkan Hanung dari Riyanto (almarhum), yang merupakan anggota Banser Mojokerto. Riyanto meninggal dalam tragedi bom Natal sekitar tiga tahun lalu. Nama Riyanto dikukuhkan dalam “Beasiswa Riyanto” di Wahid Institute. Tokoh Rika dan Surya juga bukan rekaan. “Kisah Rika dialami kerabat saya dan kisah Surya diilhami oleh figuran film Sang Pencerah bernama Dombleh,” kata Hanung.

Hanung enggan menitik-beratkan karyanya condong ke organisasi massa tertentu. Namun dia mengakui isu tentang Islam saat ini kian “seksi” di matanya. “Apalagi soal keragaman agama yang memang saya alami sendiri di keluarga, berhubung ibu saya seorang mualaf,” ujar sutradara berdarah Cina-Jawa itu. Sebelumnya, kisah perbedaan agama pernah diembuskan film 3 Hati 2 Cinta 1 Dunia karya Benni Setiawan. Jika keduanya disandingkan, eksekusi film Hanung jelas lebih lantang ketimbang drama percintaan Rosid-Delila itu.

Film “?” yang sempat menuai protes dari MUI ini sarat dengan pelajaran bagi masyarakat Indonesia bahwa perbedaan agama jangan disalahgunakan, melainkan mesti dimanfaatkan agar kita dapat membangunnya menjadi hal yang positif. ada agama yang mengajarkan keburukan. Kita wajib memelihara toleransi di setiap antarumat beragama. Karena setiap agama menganjurkan kebaikan. « [teks & foto: Riki / 21cineplex]

 

One response to “Film

  1. dyah

    Mei 15, 2011 at 3:48 pm

    nice blog..

    setuju sama quotes terakhir ..
    “Kita wajib memelihara toleransi di setiap antarumat beragama. Karena setiap agama menganjurkan kebaikan.”

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: