RSS

Liputan Yang Tak Terlupakan

Liputan PRJ

Saat ingin liputan ke PRJ [Pekan Raya Jakarta]di kemayoran, Jakarta Utara, salah satu dari anggota ‘delittlejournal’ tidak bisa hadir karena ibunya mengalami musibah. Namun tidak menghalangi niat kami untuk meliput di sana. Kami berangkat sekitar jam 5 sore. Karena terjebak macet kami baru tiba di MONAS sekitar jam delapan lewat.

Dari halte busway Lebak Bulus sampai Harmoni kami berdiri. Di dalam busway kami terhimpit karena penuhnya bus yang kami naiki. Kami baru sadar kalau ada dua pria yang suka sesame jenis. Tingkah laku dan cara bicaranya sudah menunjukan bahwa mereka adalah golongan itu. Harmoni menuju MONAS kami kembali berdiri karena penuhnya.

Kami harus menunggu beberapa menit sebelum bus menuju PRJ jalan. Kami manfaatkan untuk duduk dan menghilangkan pegal di kaki. Sampainya di PRJ kami di sambut dengan atraksi barongsai. Banyak orang  keturunan Cina di sana, ada yang member ampao ke barongsai dan ada yang sekedar melihat. Menarik karena dari mulai makanan khas betawi sampai kesenian dari Cina pun ada.

Malam itu PRJ cukup ramai karena ada penampilan dari shaggy dog . Penuh sesak di penuhi fans dari shaggy dog. Karena luas jadi tak semua stand kami bisa lihat. Ini pertama kalinya saya pulang jam 12 malam. Ada rasa senang tapi ada juga rasa aneh, mungkin nggak biasa ajah kali. [teks : Lusi]

Liputan JAKARNAVAL

Liputan parade HUT Jakarta jam 3 sore di jalan sampai . warga Jakarta yang tumpah ruah di jalan untuk menyaksikan parade HUT Jakarta. Tidak hanya kebudayaan Betawi saja yang disajikan aapi beragam budaya Indonesia. Di salah satu mobil parede juga membawa ABNON 2011 sambil menyapa warga. Sampai di tempat parade ternyata warga Jakarta sudah banyak yang menunggu di pinggir jalan.

Saya dan ke dua teman saya [Riki dan Mila] masih berada di busway parade sudah mulai. Kami segera turun, dan memotret moment itu. Mobil-mobil tua seperti oplet pun ikut memeriahkan parade tersebut. Banyak orang yang memotret moment tersebut dengan HP, kamera digital, atau kamera SLR. Bukan hanya wartawan namun warga yang melihat pun ikut serta.

Sempat beberapa saat saya tidak menemukan Mila dan Riki karena saya tertinggal. Ketika saya menggambil gambar Reok Ponorogo,  saya ditawari oleh salah satu rombongan  Reok untuk menaikinya. Saya bilang “Tidak, terimakasih” namun orang tersebut menawari berkali-kali. Setelah rombongan berlalu saya baru ingat bila ada tugas Behind The Scene. Seharusnya itu menjadi pengalaman yang paling menyenangkan selama meliput.  [teks : Lusi]

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: